Kau ingin tahu? Lihatlah lebih dekat.
Malam ini, aku kembali lagi menjadi diriku yang sebenarnya.
Setelah sekian lama dan beberapa waktu aku menjadi orang lain. Berpura-pura untuk biasa saja menyikapi situasi itu. Berpura-pura bahagia dengan lelucon-lelucon konyol yang setelahnya menjadi basi. Ketahuilah, pada masa itu aku dan hatiku menyelimuti dua rasa. Rasa perih dan rasa haru. Perih untuk hati yang mencoba tegar menyelami lukanya dan haru untuk hati yang mencoba sekuat tenaga untuk tenang berada didekatmu. Didekamu, ya ku ulangi lagi 'didekatmu' yang tak tahu akan keberadaan hatiku.
Malam ini, aku kembali lagi menjadi diriku yang sebenarnya.
Setelah keajaiban-keajaiban itu membantuku menjadi sosok yang pembohong. Tidak ku katakan pada dunia aku sedang bersedih, malah aku ingin dunia tahu bahwa aku hanya berpura-pura sedih yang padahal bila disentuh kau akan tahu bahwa aku yang sebenarnya sedang berpura-pura bahagia.
Setelah sekian lama dan beberapa waktu aku menjadi orang lain. Berpura-pura untuk biasa saja menyikapi situasi itu. Berpura-pura bahagia dengan lelucon-lelucon konyol yang setelahnya menjadi basi. Ketahuilah, pada masa itu aku dan hatiku menyelimuti dua rasa. Rasa perih dan rasa haru. Perih untuk hati yang mencoba tegar menyelami lukanya dan haru untuk hati yang mencoba sekuat tenaga untuk tenang berada didekatmu. Didekamu, ya ku ulangi lagi 'didekatmu' yang tak tahu akan keberadaan hatiku.
Malam ini, aku kembali lagi menjadi diriku yang sebenarnya.
Setelah keajaiban-keajaiban itu membantuku menjadi sosok yang pembohong. Tidak ku katakan pada dunia aku sedang bersedih, malah aku ingin dunia tahu bahwa aku hanya berpura-pura sedih yang padahal bila disentuh kau akan tahu bahwa aku yang sebenarnya sedang berpura-pura bahagia.
Komentar
Posting Komentar