DOA
Kau tidak sendirian,
Kau menimbang-nimbang antara hidup dan matimu. Kau mengukur-ukur dosa dan
kebaikanmu. Kau menghitung-hitung kegagalan yang kau lalui dan keberhasilan
yang kau dapat. Kau membuat bencana untuk dirimu sendiri. Padahal kau sadar
siapa dirimu. Apa hak mu sehingga kau bisa mencari dan menemukan keadilan itu. Kau
adalah tombak yang tertancap. Dimana kau di tancapkan disitulah kau hidup. Kau adalah
raja di dalam dirimu. Dimana kau diam di situlah istanamu.
Kau tidak sendirian,
Kau membuat perintah untuk di ikuti. Kau membuat putusan untuk di taati. Kau
membuat aturan untuk di patuhi. Namun kau membuat kami berdiri sendiri. Kami kira
kau membantu kami. Memberikan setiap persen yang kau punya untuk kebutuhan
kami. Bukan, kiranya itu terdengar meminta dan berharap kita bisa merubahnya
menjadi ‘kami kira kau melestarikan kejayaan rakyat kecil ini’.
Kau tidak sendirian,
Kami ada untukmu. Kami membantumu bahkan menafkahimu. Memberikan nafas
lega untukmu. Memberikan setiap tetes keringat kami untuk menghidupimu. Demi kau
wahai manusia istimewa. Kami persilahkan kau duduk manis di singgasana itu. Padahal,
beratapkan rumbia pun kami tidak.
Komentar
Posting Komentar